Informasi teknologi smartphone tips android dan info menarik

Holocaust, Tragedi atau Fiksi?

Holocaust, Tragedi atau Fiksi?
Holocaust, Tragedi atau Fiksi? - Banyak catatan sejarah menceritakan tentang tragedi Holocaust. Kebenaran tentang sejarah inipun masih simpang siur karena banyaknya pihak yang menyangkal tentang adanya tragedi ini. artikel ini kami buat untuk sekedar menambah pengetahuan serta wawasan para pembaca sekalian mengenai kisah yang belum dapat dipastikan kebenaran atau kebohongannya ini.

Menurut yang diceritakan bahwa Holocaust adalah pembantaian terhadap kira-kira enam juta penganut Yahudi Eropa selama Perang Dunia ke 2, suatu program pembunuhan sistematis yang didukung oleh negara Jerman Nazi yang dipimpin oleh Adolf Hitler, dan berlangsung di seluruh wilayah yang dikuasai oleh Nazi. Dari sembilan juta Yahudi yang tinggal di Eropa sebelum Holocaust, sekitar dua pertiganya tewas. Secara khusus, lebih dari satu juta anak Yahudi tewas dalam Holocaust, serta kira-kira dua juta wanita Yahudi dan tiga juta pria Yahudi.
Holocaust, Fakta atau Propoganda?
Alodlf Hitler
Beberapa pakar berpendapat bahwa definisi Holocaust harus meliputi pula genosida Nazi terhadap jutaan orang dalam kelompok lain selain Yahudi, di antaranya orang Rom, komunis, tawanan perang Soviet, warga Polandia dan Soviet,homoseksual, orang cacat, Saksi Yehuwa dan musuh politik dan keagamaan lainnya, yang menjadi korban terlepas apakah mereka berasal dari etnis Jerman atau bukan. Ini adalah definisi yang paling umum digunakan sejak akhir Perang Dunia ke 2 hingga tahun 1960-an. Jika menggunakan definisi ini, maka jumlah keseluruhan korban Holocaust mencapai 11 hingga 17 juta jiwa.


Penyiksaan dan genosida dilakukan dalam beberapa tahap. Sejumlah hukum untuk menghapuskan keberadaan orang Yahudi dari masyarakat sipil, yang paling terkenal adalah Hukum Nuremberg, diberlakukan di Jerman Nazi bertahun-tahun sebelum dimulainya Perang Dunia ke 2. Kamp konsentrasi didirikan yang di dalamnya para tahanan diharuskan melakukan kerja paksa hingga mereka mati akibat kelelahan atau penyakit. Ketika Jerman menaklukan wilayah baru di Eropa Timur, satuan khusus yang disebut Einsatzgruppen membantai musuh-musuh politik melalui penembakan massal. Nazi memerintahkan orang Yahudi dan Rom untuk dikurung di ghetto sebelum dipindahkan dengan kereta barang ke kamp pemusnahan. Di sana, jika mereka selamat dalam perjalanan, sebagian besar dari mereka secara sistematis dibunuh di dalam kamar gas.
Holocaust, Fakta atau Propoganda?
korban holocaust
Setiap bagian dari birokrasi Jerman Nazi terlibat dalam logistik yang berujung pada genosida, mengubah Reich Ketiga menjadi apa yang oleh para pakar Holocaust disebut sebagai negara genosida. Ada perbedaan pendapat mengenai berapa banyak yang diketahui oleh penduduk sipil Jerman mengenai konspirasi pemerintah terhadap orang Yahudi. Sebagian besar sejarawan mengklaim bahwa penduduk sipil tidak mengetahui kekejaman yang dilakukan pemerintah, khususnya yang terjadi di kamp konsentrasi, yang terletak di luar Jerman di Eropa yang diduduki Nazi. Akan tetapi, sejarawan Robert Gellately mengklaim bahwa pemerintah secara terbuka mengumumkan konspirasi melalui media, dan bahwa warga sipil mengetahui setiap aspeknya kecuali penggunaan kamar gas. Catatan sejarah signifikan menunjukkan gagasan bahwa sebagian besar korban Holocaust, sebelum dikirim ke kamp konsentrasi, tidak mengetahui nasib yang menanti mereka, atau tidak mempercayainya. Mereka meyakini bahwa mereka akan diberikan tempat tinggal baru.

Kalau Eropa memang bersalah membantai kaum Yahudi pada PD II, lalu mengapa Palestina yang harus menanggung akibatnya? Seharusnya Eropa menyediakan tanah di wilayahnya sendiri untuk mendirikan negara Israel. Kalau pembantaian itu tidak pernah ada, lalu mengapa Eropa mendukung pendirian negara Israel di atas tanah Palestina dengan alasan kemazluman bangsa Yahudi pada PD II? - (Ahmadinejad, Presiden Iran)
Istilah Holocaust berasal dari kata Yunani, holókauston, yang berarti binatang kurban (olos) yang dipersembahkan kepada tuhan dengan cara dibakar (kaustos). Selama ratusan tahun, kata "holocaust" digunakan dalam bahasa Inggris untuk merujuk kepada suatu peristiwa "pembantaian besar", namun sejak tahun 1960-an, istilah ini mulai digunakan oleh para pakar dan penulis populer untuk menggambarkan genosida terhadap umat Yahudi. Pada tahun 1978, sebuah mini seri berjudul Holocaust mulai mempopulerkan penggunaan istilah ini dalam bahasa sehari-hari.


Dalam Alkitab, kata Shoah  (juga dieja Sho'ah atau Shoa), bermakna "bencana". Kata ini menjadi istilah standar dalam bahasa Ibrani yang digunakan untuk menyebut Holocaust pada awal 1940-an, terutama di Eropa dan Israel. Penggunaan istilah Shoah ini lebih disukai oleh banyak umat Yahudi karena berbagai alasan, termasuk sifat teologis dari kata "holocaust", yang mereka anggap sebagai rujukan pada kebiasaan pagan bangsa Yunani.

Nazi menggunakan frasa eufemisme untuk menggambarkan peristiwa ini, yaitu Solusi Akhir atas Permasalahan Yahudi bahasa Jerman Endlösung der Judenfrage. Frasa Solusi Akhir ini banyak digunakan sebagai istilah untuk merujuk kepada genosida umat Yahudi di kemudian harinya. Nazi juga menggunakan istilah lebensunwertes leben (kehidupan bagi yang layak hidup) dalam upaya untuk membenarkan tindakan pembunuhan mereka.

Sejarawan Michael Berenbaum mengungkapkan bahwa Jerman telah menjadi sebuah "negara genosida":


 "Setiap birokrasi di negara ini terlibat dalam proses pembunuhan selama terjadinya Holocaust. Gereja-gereja paroki dan Kementerian Dalam Negeri menyediakan catatan kelahiran untuk mengidentifikasi penganut Yahudi, Kantor Pos menyampaikan perintah deportasi dan denaturalisasi, Departemen Keuangan menyita properti umat Yahudi, dan perusahaan-perusahaan Jerman memecat para pegawai Yahudi".
Universitas-universitas juga menolak untuk menerima mahasiswa Yahudi, tidak mengakui gelar akademik mereka yang sudah lulus, dan menembak mati para akademisi Yahudi. Sedangkan badan transportasi pemerintah Jerman bertugas mengatur transportasi kereta untuk mengangkut umat Yahudi ke kamp-kamp, perusahaan farmasi Jerman menguji coba-kan obat-obatan pada para tahanan di kamp, perusahaan-perusahaan ditawarkan kontrak untuk membangun krematorium, dan daftar rinci para korban dibuat dengan menggunakan mesin cetak yang diproduksi oleh perusahan IBM Jerman, Dehomag. Saat para tahanan memasuki kamp-kamp kematian, mereka diharuskan untuk menyerahkan semua barang pribadi mereka. Barang-barang ini selanjutnya di katalog-kan dan dikirim ke Jerman untuk digunakan kembali atau di daur ulang. Berenbaum juga mengungkapkan bahwa bagi para pelaku, peristiwa ini merupakan prestasi terbesar Jerman. Melalui sebuah rekening terselubung, bank nasional Jerman membantu mencuci barang-barang berharga yang dicuri dari para korban.


Saul Friedländer menyatakan bahwa: "Tidak satupun kelompok sosial, kelompok keagamaan, lembaga pendidikan, ataupun asosiasi profesional di Jerman dan di seluruh Eropa yang menyatakan solidaritasnya terhadap orang-orang Yahudi."  Friedländer juga mengungkapkan bahwa beberapa gereja Kristen menyatakan bahwa umat Yahudi yang pindah agama harus dianggap sebagai bagian dari kawanan, namun itupun hanya pada titik tertentu. Friedländer berpendapat bahwa hal tersebut menjadikan peristiwa Holocaust ini khas karena mampu terungkap tanpa adanya campur tangan dari kekuatan-kekuatan yang biasanya ditemukan dalam masyarakat maju, seperti industri, usaha kecil, gereja-gereja, dan kelompok masyarakat lainnya.


Kamp pemusnahan
Holocaust, Fakta atau Propoganda?
Auschwitz
Kamp-kamp pemusnahan dilengkapi dengan kamar gas untuk tujuan pemusnahan massal secara sistematis. Metode ini merupakan fitur unik dari Holocaust dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah. Tidak pernah tercatat sebelumnya dalam sejarah di mana telah disediakan tempat dengan tujuan untuk membunuh orang secara massal. Kamp-kamp ini didirikan di Auschwitz, Belzec, Chełmno, Jasenovac, Majdanek, Maly Trostenets, Sobibor, dan Treblinka.
Holocaust, Fakta atau Propoganda?
pemerintah Polandia mengubah Auschwitz  menjadi museum untuk menghormati para korban.
Eksperimen medis
Ciri khas lainnya dari Holocaust adalah penggunaan subyek manusia dalam eksperimen medis. Para dokter Jerman lebih bersifat "Nazi" dibandingkan dengan para profesional lain dalam hal keanggotaan partai,  dan mereka melakukan berbagai eksperimen medis di kamp konsentrasi Auschwitz, Dachau, Buchenwald, Ravensbrück, Sachsenhausen, dan Natzweiler.

Dokter Nazi yang paling terkenal adalah Dr. Josef Mengele, yang melakukan eksperimennya di Auschwitz. Eksperimennya ini termasuk menempatkan subyek dalam ruang bertekanan, pengujian obat-obatan pada subyek, membekukan subyek, berusaha untuk mengubah warna mata dengan cara menyuntikkan bahan kimia ke dalam mata anak-anak dan berbagai eksperimen amputasi serta operasi brutal lainnya. Hasil akhir dari eksperimennya ini tidak pernah diketahui karena catatan eksperimennya yang dikirimkan pada Dr. Otmar von Verschuer di Kaiser Wilhelm Institute dihancurkan oleh von Verschuer. Sebagian besar subyek yang berhasil selamat dari eksperimen Mengele selalu berakhir dengan dibunuh, atau dibedah setelah eksperimen.

Mengele biasanya sangat tertarik untuk bereksperimen dengan anak-anak Romani. Dia akan membawakan mereka permen atau mainan, dan kemudian secara pribadi membawa mereka ke kamar gas. Mereka memanggil Mengele dengan sebutan Onkel MengeleVera Alexander, salah seorang tahanan Yahudi di Auschwitz yang menyaksikan hasil eksperimen kembar Romani Mengele mengungkapkan: 

Saya ingat sepasang anak kembar Guido dan Ina, berusia sekitar empat tahunan. Suatu hari, Mengele membawa mereka pergi. Ketika mereka kembali, keadaan mereka sangat mengerikan. mereka berdua dijahit menyatu, saling membelakangi, seperti kembar siam. Luka-luka mereka terinfeksi dan bernanah. Mereka berteriak siang dan malam. Kemudian orang tua mereka, saya ingat nama sang ibu adalah Stella berhasil mendapatkan morfin, dan ia membunuh anak-anaknya untuk mengakhiri penderitaan mereka.
Namun selain teori mengenai Holocaust di atas, adapula pihak yang meragukan dan menyangkal mengenai kejadian tersebut. seorang sejarawan Yahudi bernama Alfred M Lilienthal, menyebut propaganda itu dengan “Holocaust Mania”. Upaya terbaru Zionis adalah dengan menekan Majelis Umum PBB untuk menetapkan tanggal 27 Januari sebagai hari Holocaust yang akan diperingati setiap tahun.



banyak sejarawan dan cendikiawan yang meragukan tragedi tersebut. Mereka juga menulis berbagai buku mencantumkan argumen dan bukti-bukti yang mempertanyakan keotetikan tragedi Holocaust. Meskipun demikian, para kritikus tidak mengingkari terjadinya pembunuhan terhadap sejumlah orang-orang Yahudi oleh pasukan Fasis Hitler, dan hal ini dinilai sebagai sebuah tragedi. Namun mereka berpendapat bahwa tragedi itu tidak seperti yang digambarkan oleh Rezim Zionis.

Kritikan pertama yang dilontarkan oleh para cendikiawan adalah bahwa pada perang dunia ke 2 jutaan orang dari berbagai etnis dan agama menjadi korban keganasan Nazipro. Namun mengapa yang diekspos secara meluas hanya dikhususkan kepada para korban Yahudi saja? Seorang anggota Komite Pendataan Holocaust AS - Polandia, Rana I.Aloy menyatakan, meski orang-orang Yahudi mengalami penderitaan, namun hal itu juga menimpa orang-orang selain Yahudi.

Korban paling banyak pada perang dunia ke 2 adalah orang Rusia. Korban tewas di pihak Jerman juga tidak sedikit dengan jumlah mencapai 9 juta orang dan 5,1 juta orang lainnya menjadi tawanan perang. Dengan demikian, pada perang dunia ke 2 telah terjadi berbagai pembantaian massal yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim sebagai negara yang memiliki peradaban tinggi.
Holocaust, Fakta atau Propoganda?
Jenazah korban
Alasan lain yang dikemukakan oleh para pengkritik tragedi Holocaust adalah pada era perang dunia ke 2 tidak ada laporan mengenai pembunuhan massal orang-orang yahudi. Dalam laporan Palang Merah Internasional dan perundingan sejumlah pejabat negara penentang Nazi, juga tidak disebutkan keterangan soal pembakaran orang-orang Yahudi oleh Nazi.

banyak pendapat menyatakan bahwa Rezim Zionis terlalu membesar-besarkan tragedi pembantaian orang-orang Yahudi. Bukti lainnya adalah bahwa, dalam dokumen pemerintahan Nazi, Hitler tidak pernah menginstruksikan pembantaian massal terhadap orang-orang Yahudi Yahudi. Bahkan tidak ada catatan mengenai pengalokasian dana besar untuk program tersebut. Karena, program pembantaian enam juta orang Yahudi itu tentu menelan dana besar dan rencana yang matang.

Persoalan lain yang menyebabkan tragedi Holocaust itu sulit mereka terima adalah, Jerman tidak mempunyai fasilitas untuk melakukan pembantaian massal tersebut. Pihak Rezim Zionis mengklaim bahwa, para serdadu Jerman membantai orang-orang Yahudi dengan menggunakan gaz beracun Zyclon-B, dan kemudian membakar janazah mereka kamp konsentrasi.

Bagi negara yang sedang dilanda perang besar, melakukan aksi pembantaian massal di negara jajahannya adalah tindakan yang sangat tidak logis dan akan menelan biaya sangat besar. Disamping itu, apa perlunya pasukan Nazi meracuni orang-orang Yahudi terlebih dahulu kemudian membakar jenazah mereka.
Holocaust, Fakta atau Propoganda?
Poin lain yang disinggung oleh seorang mantan guru besar universitas di Perancis, Profesor Robert Faurisson adalah, orang-orang Yahudi hanya dijadikan budak di kamp-kamp kosentrasi Nazi. Dan Nazi sama sekali tidak memiliki kepentingan untuk membantai mereka. Karena tindakan tersebut sama halnya dengan membuang tenaga sia-sia.

Prof Faurisson yang telah melakukan penelitian tentang tragedi Holocaust sejak lama itu, dalam sebuah artikel yang dimuat oleh majalah Le Monde Diplomatique, menyebutkan poin penting lainnya soal Holocaust. Menurutnya, jika ada satu orang saja dari keluaga korban Holocaust, ia akan menunjukkan dirinya. Namun, sampai saat ini tak satupun yang mengklaim sebagai anggota keluarga korban Holocaust.
Profesor Robert Faurisson
Profesor Robert Faurisson
Faurisson dan sejumlah orang yang sepaham dengannya menilai tragedi Holocaust sebagai sebuah sebuah dongeng karya orang-orang Zionis. Menurut keterangan para pengamat, ruang-ruang gas yang gencar dipublikasikan oleh Rezim Zionis itu, sebenarnya adalah ruang sterilisasi atau penyemprotan gas anti bakteri pada pakaian dan badan jenazah.

Menurut Faurisson Yang sebenarnya terjadi adalah, pada era perang dunia ke 2 khususnya akhir perang tersebut, berbagai penyakit menular seperti wabah dan tipes menjangkiti para tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Oleh karena itu, cara antisipasi dan penanganai wabah tersebut adalah dengan menyemprotkan zat anti bakteri dan membakar pakaian serta jenasah yang telah terkontaminasi virus. Dan fenomena ini dipandang sebagai peluang besar bagi orang-orang Zionis untuk mengemukakan fiksi Holocaust.

Kritikan lainnya adalah menyangkut jumlah korban di pihak orang-orang Yahudi yang mencapai enam juta orang. Pihak Zionis mengklaim bahwa jumlah tersebut tidak dapat diragukan lagi. Seorang sejarawan asal Inggris, Doktor David Irwing, dalam bukunya mencantumkan berbagai argumen bahwa aksi pembantaian terhadap enam juta orang Yahudi itu tidak lebih dari sekedar kebohongan besar.

Karena, jumlah orang-orang Yahudi di seluruh Eropa pada masa itu tidak mencapai enam juta orang. Apalagi pasukan Nazi tidak sepenuhnya menguasai Eropa. Seorang pengamat Iran, Doktor Muhammad Taqi Pour mengatakan, dari jumlah keseluruhan warga Yahudi Jerman yang mencapai 600 ribu orang, 400 ribu di antaranya atas perintah Hitler telah meninggalkan Jerman sebelum perang dunia II dikobarkan.

Hal lain yang perlu kita cermati adalah sejumlah dokumen menunjukkan hubungan baik orang-orang Zionis dengan para pejabat tinggi Nazi. Pada tahun 1933 yaitu tahun Hitler berkuasa hingga tahun 1941, orang-orang Zionis menjalin hubungan erat dengan Nazi di bidang ekonomi. Hitler yang sangat menentang keberadaan orang-orang Yahudi di Jerman itu, bersama dengan orang-orang Zionis berupaya merelokasi orang-orang Yahudi ke Palestina. Seorang analis Nazi, Alfred Rosenburg, dalam bukunya menulis, Nazi harus mendukung pihak Zionis sehingga setiap tahun orang-orang Yahudi di Jerman dapat dipindahkan ke Palestina.

di negara Barat Zionis tidak mengizinkan siapa pun untuk menolak kisah tragedi Holocaust. Saat ini di AS dan Eropa, siapa pun tidak boleh menolak tragedi Holocaust, dan akan ditindak jika menolaknya. seorang analis yang berasal dari Australia, Fredick Toban, menolak tragedi tersebut dan mendapat ganjaran penjara enam bulan. Fredick Toban mengatakan, “Di Eropa, setiap orang bisa menghujat Yesus dan Maryam yang suci, namun tidak dapat mengkritik orang-orang Yahudi dan Holocaust." Sejumlah negara Eropa yang sudah cukup maju bersedia dalam perundangan-undangannya untuk mengatur para penolak Holocaust.

Berdasarkan undang-undang di AS dan Eropa yang bernama Gitto, siapa pun yang menolak Holocaust, akan terhitung sebagai orang yang anti Yahudi dan terkena hukuman. Pernacis yang disebut sebagai negara kebebasan juga menerima undang-undang Fabius-Gayssot di tahun 1990. Berdasarkan undang-undang tersebut, setiap orang yang menolak Holocaust dan meragukan kisah tentang terbantainya enam juta orang Yahudi di Eropa, akan dikenai hukuman penjara atau denda. 

Pada saat yang sama, Barat merupakan negara-negara yang menghargai penelitian ilmiah dan logis, namun tetap akan menindak penentang Holocaust yang berargumentasi dengan bukti-bukti yang valid. Ancaman hukuman bagi para penentang Holocaust mengingatkan pengadilan-pengadilan di abad pertengahan yang menindak terhadap para penentang keyakinan gereja.

Pada prinsipnya, larangan keras tersebut ditujukan kepada para penentang, baik menolak maupun meragukan tergedi tersebut. Oleh karena itu, diantara dalih mempertanyakan dan meragukan Holocaust adalah adanya larangan yang kuat untuk menelaah lebih lanjut tragedi tersebut. Robert Forison menyatakan, “Sampai saat ini, mereka tidak dapat menjawab argumentasi penolakan kita atas kebenaran tragedi Holocaust, melainkan menyerang kita dengan menyeret kita ke pengadilan, menindak dan menyiksa.”

Forison yang berkewarganegaraan Inggris dan Perancis adalah seorang sejarawan yang melakukan penelitian tentang Holocaust selama bertahun-tahun, bahkan berhasil mendapatkan sejumlah data terlarang milik Zionis. Namun, ketika beliau mempertanyakan Holocaust dan menolak keberadaan ruangan gas yang ditulis dalam bukunya, “Ruangan Gas: Fiktif atau Nyata,” menyebabkan kemarahan Zionis dan Perancis.

Profesor Forison diberhentikan dari aktivitas mengajar di Universitas Lion di tahun 1978, dan menurut rencana akan diadili di bulan Juni karena wawancaranya dengan Televisi Sahar milik Republik Islam Iran dalam kaitannya dengan Holocaust. Horison dalam wawancara tersebut menyatakan, “Kami para penentang Holocaust tidak diberi hak untuk mencetak dan menyebarkan artikel dan buku. Mereka membakar buku-buku kami dan melarang penerbitannya di luar negeri.”

Demikianlah artikel kami mengenai Holocaust, Tragedi atau Fiksi? untuk kebenaran kejadian ini masih menjadi misteri hingga saat ini. semoga artikel ini dapat menjadi informasi yang bermanfaat bagi para pembaca sekalian.


Holocaust, Tragedi atau Fiksi? Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Puspito Purwo Sunarto